بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ e Pertani - Halo sabat dimana anda berada kali ini kami akan berbagi tenang tugas yang telah di berikan kepada kami. Tugas ini membahas tentang bagaimana memanfaatkan lahan kosong di sela-sela tanaman di perkebunan kelapa sawit.
KASUS
Kelapa sawit merupakan tanaman
tahuanan yang mempunyai habitus besar dan tinggi sehingga penanamannya
dilakukan dengan jarak tanam yang lebar. (luas
lahan)Tanaman tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan yang lambat sehingga pada
tahun-tahun awal banyak ruang yang kosong, yang dapat menimbulkan gangguan
akibat faktor lingkungan.( kerusakan tanah) Selain itu dengan umur produksi
yang relative lama, selama menuggu fase reproduktif, petani belum mendapatkan
hasil dari lahannya.
ANALISIS
Opik (2016), menyatakan banwa Produktifitas lahan pertanian merupakan
suatu konsep yang di tentukan oleh 3 faktor, yaitu (1) Sistem pengelolaan
tanah, (2) Hasil (produksi), dan (3) Jenis tanah. Nilai tanah pertanian sangat
tergantung pada nilai produksivitas tanah, semakin produktif maka nialai tanah
semakin tinggi.
Kasus kelapa sawit yang
memiliki budidaya untuk menghasilkan produk membutuhkan waktu yang lama serta
memiliki luas lahan kosong antar sela kelapa sawit yang sangat luas. Luas
kosong antar sela kelapa sawit menimbutkan berbagai macam masalah, dari segi
ekonomi petani kelapa sawit belum menguntungkan karena belum berproduksi serta
kerusakan lingkungan terutama tanah di sela-sela kelapa sawit.
Kelapa sawit sebagai tanaman
tahunan yang belum menghasilkan di fase-fase awal menajadi kendala yang sangat
serius karena para petani belum mendapatkan keuntungan. Umumnya kelapa sawit
dapat menghasilkan produksi atau dapat di panen sekitar umur 5 tahun setelah
tanam (Rony Wahyudi, 2013).
Dampak lingkungan akibat terdapat ruang kosong
antar tanaman kelapa sawit akan menimbukkan berbagai masalah terutama bagi
tanah yang tidak ada naungan dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman
kelapa sawit. Tanah yang kosong antar kelapa sawit akan mengakibatkan
peningkatan suhu tanah yang di sebabkan oleh radiasi maatahati terlalu tinggi,
sehingga mengakibatkan laju evaporasi semakin cepat. Pada musim penghujan akan
menyebabkan penyerapan air ke dalam tanah mengalami pengurangan yang
berakibatkan air hanya terlewat. Apabila air terlalu besar akan mengakibatkan
banjir. Ketika hujan tetesan air akan langsung jatuh ke permukaan tanah yang
mengakibatkan rusaknya sifat dari tanah tersebut. Pada sifat fisik permukaan
akan mengalami longsor, sedangakan pada sifat kimia dapat mengakibatkan
larutan-larutan unsur hara terbawa oleh air yang mengalir sehingga berpidah
tempat unsur hara tersebut. Jika sifat
tanah sudah mengalami kerusakan maka akan berakibat pada turunnya kulitas dari
tanah tersebut yang menyebabkan tanah tidak dapat berfungsi seperti sediakala.
Hal ini tentu saja berdampak pada tanaman yang di tanam di tanah tersebut.
SOLUSI
Kondisi peningkatan perluasan lahan
perkebunan kelapa sawit menimbulkan masalah, yaitu tidak produktifnya lahan.
Tidak produktifnya lahan ditunjukkan dengan produktifitas dan Indeks Pertanaman
(IP) yang tidak memberikan dampak kepada petani dalam hal pendapatan. Dengan
semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit, maka terdapat kawasan perkebunan
kelapa sawit muda yang cukup luas dimana
umur tanaman kurang dari 5 tahun yang memiliki produktifitas lahan yang rendah
dari hasil panen. Pada umur awal 0
tahun sampai dengan umur 3 tahun tanaman kelapa sawit
belum menghasilkan Tandan Buah Segar (TBM), untuk umur 4-5 tahun produktifitas
tandan buah masih sangat rendah, sehingga produktifitas lahan tidak optimal. Pada tanaman sawit yang belum
menghasilkan TBM 1 ada sekitar 75% ruang terbuka dan pada TBM 2 ada 60% ruang
terbuka dari total areal (Warsito, 2013). Ruang terbuka ini dikarenakan kondisi
organ tanaman yang belum berkembang secara sempurna, mulai dari akar yang
berada di dalam tanah belum menyebar luas sehingga tanah masih mudah diolah,
dan kondisi kanopi daun yang masih pendek memungkinkan sinar matahari
masih menjangkau ruang tanam tersebut.
Produktifitas dan efisiensi penggunaan lahan di kawasan perkebunan kelapa sawit
muda sampai saat ini masih rendah karena ruang tanam (interface) diantara barisan kelapa sawit muda untuk kegiatan
produktif. Padahal, ruang tanam tersebut mempunyai lebar yaitu 9 meter memiliki
peluang intercropping tanaman sawit
dengan tanaman pangan masih terbuka. Peluang ini dalam segi ekonomi lebih
menguntungkan, pasalnya dengan penanaman monokultur dan jangka waktu tanaman
akan menghasilkan yang optimal cukup lama, membuat pembiayaan dalam perawatan
tanaman tidak sebanding dengan pendapat yang diperoleh petani dari hasil panen.
Kondisi tersebut adalah peluang
petani untuk memanfaatkan ruang tanam kelapa sawit ditanami oleh tanaman sela
demi memenuhi kebutuhan pangan penduduk
sekitar dan menambah produktifitas lahan
kelapa sawit. Perlu adanya penentuan umur yang tepat untuk menumpang sarikan
kelapa sawit dangan tanaman pangan, dengan cara seperti ini petani tidak lagi
menunggu pendapatan dari tanaman utama yaitu kelapa sawit, akan tetapi tanaman
semusim ini mampu memberikan pendapan yang cukup untuk menggantikan biaya
perawatanm tanaman utama dan bahkan lebih dari itu.
Pemilihan tanaman sela yang akan diusahakan di
bawah pohon kelapa sawit didasarkan pada:(1) karakteristik tanaman kelapa sawit
dan tanaman sela, (2) kesesuaian iklim dan penyebaran areal kelapa sawit, (3)
keadaan iklim mikro di bawah kelapa sawit terutama radiasi surya, suhu, dan
kelembaban, dan (4) persyaratan iklim tanaman sela meliputi radiasi surya,
curah hujan, tinggi tempat, suhu, dan kelembaban (Mahmud, 1998). Kriteria umum jenis tanaman sela yang akan
diusahakan, sebagai berikut:
Versi Lengkap danwload
>>>Klik<<<
Sekian dari kami semoga bermanfaat...
- Tanaman sela tidak lebih tinggi dan tanaman kelapa sawit selama periode pertumbuhan dan sistem perakaran dan tajuknya menempati horizon tanah dan ruang di atas tanah yang berbeda.
- Tanaman sela tidak merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit kelapa sawit dan tidak lebih peka dari tanaman kelapa sawit terhadap serangan hama dan penyakit tersebut.
- Pengelolaan tanaman sela tidak menyebabkan kerusakan tanaman kelapa sawit atau menyebabkan terjadinya erosi atau kerusakan tanah.
- Sesuai untuk diusahakan pada ketinggian 0-500 m dpl. dengan curah hujan 1.500-3.000 mrn/tahun dengan bulan kering maksimal 3 bulan berturut-turut.
- Toleran terhadap naungan dengan intensitas radiasi surya 50-200 W m2, suhu rata-rata 25-27° C dan kelembaban > 80%.
Versi Lengkap danwload
>>>Klik<<<
Sekian dari kami semoga bermanfaat...
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ