Breaking News

Minggu, 16 Oktober 2016

Kelapa Sawit

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  e Pertani - Halo sabat dimana anda berada kali ini kami akan berbagi tenang tugas yang telah di berikan kepada kami. Tugas ini membahas tentang bagaimana memanfaatkan lahan kosong di sela-sela tanaman di perkebunan kelapa sawit. 


KASUS

Kelapa sawit merupakan tanaman tahuanan yang mempunyai habitus besar dan tinggi sehingga penanamannya dilakukan dengan jarak tanam yang lebar. (luas lahan)Tanaman tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan yang lambat sehingga pada tahun-tahun awal banyak ruang yang kosong, yang dapat menimbulkan gangguan akibat faktor lingkungan.( kerusakan tanah) Selain itu dengan umur produksi yang relative lama, selama menuggu fase reproduktif, petani belum mendapatkan hasil dari lahannya. 
ANALISIS

Opik (2016), menyatakan banwa Produktifitas lahan pertanian merupakan suatu konsep yang di tentukan oleh 3 faktor, yaitu (1) Sistem pengelolaan tanah, (2) Hasil (produksi), dan (3) Jenis tanah. Nilai tanah pertanian sangat tergantung pada nilai produksivitas tanah, semakin produktif maka nialai tanah semakin tinggi.
Kasus kelapa sawit yang memiliki budidaya untuk menghasilkan produk membutuhkan waktu yang lama serta memiliki luas lahan kosong antar sela kelapa sawit yang sangat luas. Luas kosong antar sela kelapa sawit menimbutkan berbagai macam masalah, dari segi ekonomi petani kelapa sawit belum menguntungkan karena belum berproduksi serta kerusakan lingkungan terutama tanah di sela-sela kelapa sawit.
Kelapa sawit sebagai tanaman tahunan yang belum menghasilkan di fase-fase awal menajadi kendala yang sangat serius karena para petani belum mendapatkan keuntungan. Umumnya kelapa sawit dapat menghasilkan produksi atau dapat di panen sekitar umur 5 tahun setelah tanam (Rony Wahyudi, 2013).

      Dampak lingkungan akibat terdapat ruang kosong antar tanaman kelapa sawit akan menimbukkan berbagai masalah terutama bagi tanah yang tidak ada naungan dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman kelapa sawit. Tanah yang kosong antar kelapa sawit akan mengakibatkan peningkatan suhu tanah yang di sebabkan oleh radiasi maatahati terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan laju evaporasi semakin cepat. Pada musim penghujan akan menyebabkan penyerapan air ke dalam tanah mengalami pengurangan yang berakibatkan air hanya terlewat. Apabila air terlalu besar akan mengakibatkan banjir. Ketika hujan tetesan air akan langsung jatuh ke permukaan tanah yang mengakibatkan rusaknya sifat dari tanah tersebut. Pada sifat fisik permukaan akan mengalami longsor, sedangakan pada sifat kimia dapat mengakibatkan larutan-larutan unsur hara terbawa oleh air yang mengalir sehingga berpidah tempat unsur hara tersebut.  Jika sifat tanah sudah mengalami kerusakan maka akan berakibat pada turunnya kulitas dari tanah tersebut yang menyebabkan tanah tidak dapat berfungsi seperti sediakala. Hal ini tentu saja berdampak pada tanaman yang di tanam di tanah tersebut. 
SOLUSI
    Kondisi peningkatan perluasan lahan perkebunan kelapa sawit menimbulkan masalah, yaitu tidak produktifnya lahan. Tidak produktifnya lahan ditunjukkan dengan produktifitas dan Indeks Pertanaman (IP) yang tidak memberikan dampak kepada petani dalam hal pendapatan. Dengan semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit, maka terdapat kawasan perkebunan kelapa sawit muda  yang cukup luas dimana umur tanaman kurang dari 5 tahun yang memiliki produktifitas lahan yang rendah dari hasil panen. Pada umur awal 0 tahun sampai dengan umur 3 tahun tanaman kelapa sawit belum menghasilkan Tandan Buah Segar (TBM), untuk umur 4-5 tahun produktifitas tandan buah masih sangat rendah, sehingga produktifitas lahan  tidak optimal. Pada tanaman sawit yang belum menghasilkan TBM 1 ada sekitar 75% ruang terbuka dan pada TBM 2 ada 60% ruang terbuka dari total areal (Warsito, 2013). Ruang terbuka ini dikarenakan kondisi organ tanaman yang belum berkembang secara sempurna, mulai dari akar yang berada di dalam tanah belum menyebar luas sehingga tanah masih mudah diolah, dan kondisi kanopi daun yang masih pendek memungkinkan sinar matahari masih  menjangkau ruang tanam tersebut. Produktifitas dan efisiensi penggunaan lahan di kawasan perkebunan kelapa sawit muda sampai saat ini masih rendah karena ruang tanam (interface) diantara barisan kelapa sawit muda untuk kegiatan produktif. Padahal, ruang tanam tersebut mempunyai lebar yaitu 9 meter memiliki peluang intercropping tanaman sawit dengan tanaman pangan masih terbuka. Peluang ini dalam segi ekonomi lebih menguntungkan, pasalnya dengan penanaman monokultur dan jangka waktu tanaman akan menghasilkan yang optimal cukup lama, membuat pembiayaan dalam perawatan tanaman tidak sebanding dengan pendapat yang diperoleh petani dari hasil panen.
     Kondisi tersebut adalah peluang petani untuk memanfaatkan ruang tanam kelapa sawit ditanami oleh tanaman sela demi memenuhi  kebutuhan pangan penduduk sekitar dan  menambah produktifitas lahan kelapa sawit. Perlu adanya penentuan umur yang tepat untuk menumpang sarikan kelapa sawit dangan tanaman pangan, dengan cara seperti ini petani tidak lagi menunggu pendapatan dari tanaman utama yaitu kelapa sawit, akan tetapi tanaman semusim ini mampu memberikan pendapan yang cukup untuk menggantikan biaya perawatanm tanaman utama dan bahkan lebih dari itu. 
   Pemilihan tanaman sela yang akan diusahakan di bawah pohon kelapa sawit didasarkan pada:(1) karakteristik tanaman kelapa sawit dan tanaman sela, (2) kesesuaian iklim dan penyebaran areal kelapa sawit, (3) keadaan iklim mikro di bawah kelapa sawit terutama radiasi surya, suhu, dan kelembaban, dan (4) persyaratan iklim tanaman sela meliputi radiasi surya, curah hujan, tinggi tempat, suhu, dan kelembaban (Mahmud, 1998). Kriteria umum jenis tanaman sela yang akan diusahakan, sebagai berikut:

  1. Tanaman sela tidak lebih tinggi dan tanaman kelapa sawit selama periode pertumbuhan dan sistem perakaran dan tajuknya menempati horizon tanah dan ruang di atas tanah yang berbeda.
  2. Tanaman sela tidak merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit kelapa sawit dan tidak lebih peka dari tanaman kelapa sawit terhadap serangan hama dan penyakit tersebut.
  3. Pengelolaan tanaman sela tidak menyebabkan kerusakan tanaman kelapa sawit atau menyebabkan terjadinya erosi atau kerusakan tanah.
  4. Sesuai untuk diusahakan pada ketinggian 0-500 m dpl. dengan curah hujan 1.500-3.000 mrn/tahun dengan bulan kering maksimal 3 bulan berturut-turut.
  5. Toleran terhadap naungan dengan intensitas radiasi surya 50-200 W m2, suhu rata-rata 25-27° C dan kelembaban > 80%.
Lanjutan....
Versi Lengkap danwload
>>>Klik<<<

Sekian dari kami semoga bermanfaat...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By